STRATEGY INVESTASI DI MASA KRISIS KETIKA MARKET JATUH

Story by: Hanna Dalimunthe
Published: August 24, 2019
Viewed 490 times

Hanna is a passionate advisor who guides trader in Indonesian stocks market. She spent number of years for UOB Kayhian Premiere as a trading advisor. She will make you fully committed and transform you into a credible trader in the financial market.

Story by: Hanna Dalimunthe
Published: August 24, 2019
Viewed 490 times

Hanna is a passionate advisor who guides trader in Indonesian stocks market. She spent number of years for UOB Kayhian Premiere as a trading advisor. She will make you fully committed and transform you into a credible trader in the financial market.


STRATEGY INVESTASI DI MASA KRISIS KETIKA MARKET JATUH

Indeks Harga Saham Gabungan, yang disingkat (IHSG) beberapa bulan terakhir ini mengalami pelemahan, pasca berita yang menyebar di dunia finance market adanya faktor karena nilai mata uang Yuan melemah terhadap Dollar Amerika. Pada saat harga saham naik, ada banyak trader yang berhasil mencetak profit spektakuler, dan disitulah kemudian mulai terjadi euphoria pasar , dimana trader senang mendapatkan profit besar, akan terus mulai mengincar saham saham yang sudah naik. Sesuai dengan prinsip Technical Analysis, tidak ada harga saham yang naik terus tanpa turun, dan sebaliknya. Setelah harga saham naik, sangat munkin sebagian besar harga saham mulai terkoreksi.

Seperti contoh kasus pada tanggal 28 Juni 2018, nilai IHSG turun ke level 5667, jika dibandingkan awal tahun 2018 nilai IHSG berada di area 6366, maka tercatat telah turun 11%. Kemudian wajar jika para investor di Bursa Efek Market Indonesia mengalami panik, cemas, takut dan khawatir atau stress bahkan. Lalu, dapat kita pahami, bagaimana sebaiknya investor bersikap atas kejatuhan harga saham atau market crash (crisis) tersebut.
Kita ketahui dan bahas terlebih dahulu, perjalanan pada saat harga saham crash, dimulai dari tahun 1985 sampai 2016, data penurunan IHSG yang sangat besar.

  • Tahun 1991, IHSG turun 41%
  • Tahun 1994, IHSG turun 20%
  • Tahun 1997, IHSG turun 37%
  • Tahun 2000, IHSG turun 38%
  • Tahun 2008, IHSG turun 51%
  • Tahun 2015, IHSG turun 12%
    (Sumber: IDX Fact Book 2017)



INVESTOR JANGKA PANJANG TIDAK PERLU KHAWATIR
Pelajaran pentingnya adalah, setelah kejatuhan market pasti akan diikuti dengan kenaikan harga-harga saham yang tinggi. Untuk investor dengan timeframe jangka Panjang, peristiwa-peristiwa kejatuhan market seperti ini mestinya tidak mengkhawatirkan karena dalam jangka Panjang kinerja market pasti naik. Jika investor bisa memanfaatkan peluang dari krisis, di mana membeli saham ketika market sedang jatuh (misal pada tahun 2000) maka kinerja harga saham di akhir tahun 2016 adalah 19% per tahun. Hasil yang luar biasa, apalagi ditambah dengan dividen yield yang sebesar 2%. Jadi investor tidak perlu khawatir, cemas atau stress. Selama time frame investasinya adalah jangka Panjang, dan mendasarkan pilihan saham pada perusaahn-perusahaan yang berfundamental bagus (kuat). Malah sebaliknya, investor justru bisa memanfaatkan peluang untuk mendapatkan harga-harga saham yang lebih murah, waktu yang terbaik untuk value investing.



STRATEGY INVESTASI DI MASA KRISIS KETIKA MARKET CRASH

Secara umum ada dua strategi:

  1. Menunggu, menunggu sampai kepanikan market selesai. Ketika harga-harga saham berjatuhan, itu bisa diibaratkan pisau yang sedang jatuh, membeli harga saham yang sedang jatuh itu bisa diibaratkan menangkap pisau yang jatuh, bisa berbahay dan terluka pastinya. Oleh karena itu, tunggu sampai harga saham stabil, setelah itu baru membelinya. Ibaratnya tunggu sampai pisau jatuh ditanah dan diam, setelah itu baru kita mengambilnya. Namun, yang terjadi tidak semudah itu, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Kita tidak tahu di mana dasarnya (harga saham terendah) dan kapan itu terjadi. Namun, berdasarkan pengalaman-pengalaman masa lalu, kepanikan di market itu aka nada selesainya. Ini bisa dilihat dengan harga-harga saham yang cenderung lebih stabil di harga bawah tersebut yang dalam bahasa Analisa teknikalnya sebagai Sideways after crash.
  2. Membeli, dengan cara mecicil, artinya setiap harga saham turun 5% Investor menambah lagi penambahan saham. Cara ini disebut sebagai Averaging Down. Perlu di hindari adalah langsung memborong saham ketika melihat harga sedang jatuh. Arti memborong disini adalah membelanjakan semua uang (uang cash yang tersedia untuk investasi) untuk membeli saham, jadi istilah memborong di sini bukan karena nominalnya (besar atau kecil) tapi lebih kepada porsi (persentase) uang yang dibelikan saham. Mengapa memborong disini sebaiknya dihindari? Karena kita tidak tahu, apakah harga saham yang sedang jatuh ini, akan bisa jatuh lebih dalam lagi?kalau harga jatuh lebih dalam lagi, maka kita tidak punya dana untuk membeli saham dengan harga yang lebih murah lagi (disebut, lost opportunity).

RECOMMENDATION FROM EXPERT:

• Jadi melalui artikel ini dapat menjadi bahan rekomendasi agar bersikap menunggu atau menahan bahkan cut loss ketika harga suatu saham melemah.
• Share artikel ini ke temanmu dan DAPATKAN FREE KONSULTASI langsung dengan Saya untuk mengenal trading lebih detail.
CALL atau whatsapp dan cari Hanna silahkan hubungi DISINI

click
click

Connect With Us:

Solutions

A Member Of

INDONESIA TECHNICAL ANALYST ASSOCIATION

Awards

Pada 1 Februari 2014, Gema Merdeka Goeyardi, MM, CAT, President Director & Founder Astronacci International menerima penghargaan rekor dunia dari MURI (Museum Rekor Indonesia) atas rekor "Metode Proyeksi Keuangan Pertama Menggunakan Ilmu Astrology dan Bilangan Fibonacci" di Jakarta. [ read more ]

Awards

Pada 1 Februari 2014, Gema Merdeka Goeyardi, MM, CAT, President Director & Founder Astronacci International menerima penghargaan rekor dunia dari MURI (Museum Rekor Indonesia) atas rekor "Metode Proyeksi Keuangan Pertama Menggunakan Ilmu Astrology dan Bilangan Fibonacci" di Jakarta. [ read more ]