Moving Average (MA) merupakan salah satu indicator tertua dan paling populer penggunaanya dalam analisis teknikal modern. Moving Average (MA) atau indikator pergerakan rata-rata adalah indicator yang menunjukkan rata-rata harga dari suatu perusahaan pada kisaran waktu tertentu. Ketika kita menerapkan indicator MA dalam chart, biasanya kita harus menentukan jangka waktu dari harga rata-rata tersebut contohnya rata-rata harga 30 hari ditulis dengan MA 30. Dalam perkembangannya indicator MA telah mengalami pengembangan dan modifikasi, hingga kini ada 3 jenis MA yang cukup banyak digunakan dalam sistem perdagangan (trading system) seperti:
1. Simple Moving Average (SMA), merupakan indicator MA yang pertamakali diperkenalkan. SMA dihitung dengan menjumlah harga penutupan dan dibagi dengan jumlah hari (∑ harga penutupan/ hari). Misalnya pada SMA 30, kita menjumlah 30 hari harga penutupan dengan 30 hari.
2. Exponential Moving Average (EMA), pengembangan dari SMA dengan penambahan "bobot" pada penghitungan data terakhirnya. Akibat dari penambahan “bobot” yaitu perhitungan bilangan eksponensial, EMA menjadi indicator yang cukup responsive terhadap perubahan harga dibandingkan dengan SMA. Perkembangan selanjutnya, EMA juga menjadi bagian integral dari indicator MACD dan Percentage Price Oscillator (PPO).
3. Linear Weighted Moving Average (LWMA), LWMA seperti halnya EMA ada penambahan “bobot” dalam kalkulasinya, berbeda dengan EMA, pada LWMA terdapat perhitungan progressif linear (contoh:1,2,3,…). Contohnya pada 6-hari LWMA, harga penutupan pada hari pertama dikalikan 1, harii kedua dikalikan 2 dst. Penambahan bobot pada kedua indikator ini sebenarnya dipergunakan untuk mengatasi masalah lagging atau keterlambatan dalam mengikuti pergerakan harga terkini pada SMA.
Figure 1: Gambaran pergerakan SMA (garis hitam), EMA (garis merah), WMA (garis hijau).
Interpretasi penggunaan
Moving Average cukup mudah untuk dipergunakan dalam sistem trading anda, setidaknya ada dua cara MA memberikan sinyal jual/beli:
1. Pada penggunaan satu periode MA, sinyal beli anda bisa dapatkan jika pergerakan harga cenderung bergerak naik dan menjauhi MA dan sinyal jual diperoleh jika harga terus menerus bergerak turun dan menjauh dari MA.
2. Pada kombinasi periode MA, sinyal beli diperoleh dari crossover (persilangan) antara dua MA berbeda periode pada trend menurun (Bearish), sebaliknya sinyal jual anda peroleh dari persilangan antara dua periode MA pada saat tren naik (Bullish).
Interpretasi penggunaan
Moving Average cukup mudah untuk dipergunakan dalam sistem trading anda, setidaknya ada dua cara MA memberikan sinyal jual/beli:
1. Pada penggunaan satu periode MA, sinyal beli anda bisa dapatkan jika pergerakan harga cenderung bergerak naik dan menjauhi MA dan sinyal jual diperoleh jika harga terus menerus bergerak turun dan menjauh dari MA.
2. Pada kombinasi periode MA, sinyal beli diperoleh dari crossover (persilangan) antara dua MA berbeda periode pada trend menurun (Bearish), sebaliknya sinyal jual anda peroleh dari persilangan antara dua periode MA pada saat tren naik (Bullish).
Figure 2: Contoh Moving Average Cross Over
Figure 3: Trading Gold dengan Moving Average membukukan keuntungan USD1,955 dengan posisi SELL SHORT
8 TEKNIK PENGGUNAAN MOVING AVERAGE

1. Saat Moving Average (MA) menurun dalam periode cukup lama kemudian diikuti dengan pembelokan arah MA ke atas hal ini merupakan tahap awal bull market.
2. Apabila harga turun dibawah MA yang masih naik, disarankan untuk menambah posisi beli, sebaliknya saat harga naik diatas MA yang masih turun, anda dapat menambah posisi sell atau melakukan profit taking.
3. Saat harga terkoreksi namun tidak jatuh dibawah MA yang sedang mengarah naik anda dapat menambah posisi beli pada saat harga kembali naik (rebound), berlaku sebaliknya saat sedang bearish.
4. Jika harga turun terlalu jauh meninggalkan MA, maka akan terjadi rebound yang signifikan.
5. Ketika MA berubah arah dari atas menghadap kebawah setelah kenaikan yang berlangsung lama, diperkirakan hal ini merupakan tahap awal dari perubahan trend dari bullish ke bearish. Berlaku sebaliknya.
6. Saat harga dari bawah mencoba naik menembus MA yang mengarah turun tapi gagal menembus atau merubah arah MA dari turun menjadi naik, disarankan segera melakukan penjualan.
7. Saat harga mencoba rebound namun bergerak datar/sideways dan belum mampu menembus MA, anda dapat menambah posisi sell ketika harga jatuh menembus support sideways tersebut.
8. Jika harga naik cukup jauh meinggalkan MA, reaksi penurunan secara spontan akan terbentuk dimana harga akan kembali ke nilai wajarnya.
2. Apabila harga turun dibawah MA yang masih naik, disarankan untuk menambah posisi beli, sebaliknya saat harga naik diatas MA yang masih turun, anda dapat menambah posisi sell atau melakukan profit taking.
3. Saat harga terkoreksi namun tidak jatuh dibawah MA yang sedang mengarah naik anda dapat menambah posisi beli pada saat harga kembali naik (rebound), berlaku sebaliknya saat sedang bearish.
4. Jika harga turun terlalu jauh meninggalkan MA, maka akan terjadi rebound yang signifikan.
5. Ketika MA berubah arah dari atas menghadap kebawah setelah kenaikan yang berlangsung lama, diperkirakan hal ini merupakan tahap awal dari perubahan trend dari bullish ke bearish. Berlaku sebaliknya.
6. Saat harga dari bawah mencoba naik menembus MA yang mengarah turun tapi gagal menembus atau merubah arah MA dari turun menjadi naik, disarankan segera melakukan penjualan.
7. Saat harga mencoba rebound namun bergerak datar/sideways dan belum mampu menembus MA, anda dapat menambah posisi sell ketika harga jatuh menembus support sideways tersebut.
8. Jika harga naik cukup jauh meinggalkan MA, reaksi penurunan secara spontan akan terbentuk dimana harga akan kembali ke nilai wajarnya.
