CURRENT MOON





.

Gema Goeyardi

Special Report: Asia in Crisis?

Written by  Gema Goeyardi Sabtu, 08 Oktober 2011 20:42
Rate this item
(4 votes)
RWS, Photo by Gabrielle/AstronacciRWS, Photographer: Gabrielle/Astronacci
Singapura merupakan salah satu tujuan wisata yang paling menarik dalam kurun waktu 2 tahun terakhir yang mungkin disebabkan karena daya tarik Resort World Sentosa (RWS), salah satu tempat wisata yang dimiliki oleh Genting International (GENT). Disana terdapat taman bermain yaitu Universal Studio Singapore (USS), dan Genting Singapore Casino Royale (GEN SP) dimana sahamnya juga terdaftar dan diperdagangkan dibursa saham Strait Times Singapore. Sejak diresmikannya casino di Singapura, terlihat makin banyak mobil mewah dan meningkatnya kehidupan glamor di negeri singa ini. Minggu lalu crew Astronacci mengadakan kunjungan ke Singapura khususnya USS, GENS, dan sebagai pemanis bermalam 1 hari di Marina Bay Sands, hotel termewah saat ini untuk melihat secara langsung bagaimana consumer spending level disaat ancaman krisis mulai menggelegar.

Trip report dan sekaligus Company Visit ke Genting Singapore (GENS) kali ini secara khusus dibuat sebagai salah satu studi lapangan yang mungkin dapat digunakan sebagai barometer apakah resesi dan krisis finansial juga sedang melanda Asia khususnya wilayah negara-negara ASEAN. Untuk itu kali ini saya memilih Genting International yang sudah berpengalaman di dunia sektor gaming, plantations dan dunia hiburan yang terintegrasi di seluruh Asia (Hongkong, Macau, Malaysia, dan Singapore). Kami juga melakukan wawancara kepada 3 orang pengunjung Universal Studio Singapore yang berasal dari Eropa (German, Switzerland, dan London) menanyakan pendapat mereka tentang krisis yang diberitakan terjadi di Eropa.

DAY 1 - UNIVERSAL STUDIO SINGAPORE  (Minggu, 2 Oktober 2011)


Hari pertama crew Astronacci mengunjungi Universal Studio Singapore (USS) langsung dari Changi International Airport kurang lebih sekitar 30 menit perjalanan dengan menggunakan taxi.  Sesampainya disana crew membeli tiket masuk seharga SGD75/orang. Tercatat hari ituUSS Enterance, Photographer: Gabrielle/Astronacci sekitar lebih dari 30,000  tiket masuk terjual dengan harga premium week end price. USS merupakan salah satu usaha dari holding company Genting bhd. yang saat ini memiliki kontribusi yang sangat signifikan dari seluruh profit centernya. Pada tahun 2010, USS telah berhasil mencatatkan penjunjung sebanyak 15 juta orang dan untuk 2011 di targetkan mencapai 16 juta pengunjung. USS adalah anak usaha non casino yang berkontribusi kurang lebih 10% terhadap seluruh pemasukan dari group Genting. Wahana yang paling menguntungkan adalah Battle Galactica, sejenis roller coaster yang sangat menegangkan. Genting Singapore (GENS) telah membukukan keuntungan sebesar US$514 juta pada tahun Far Away USS, Photgrapher: Gabrielle/Astronaccipertama sejak dibukanya USS ini. Hari itu, pengunjung mayoritas berasal dari Asia dan disusul oleh wisatawan dari Eropa dan Amerika kemudian India dan Timur Tengah.

Yang sangat menarik adalah crew belum melihat suasana krisis di Singapura selama beberapa hari disana. Untuk itu, sesuai dengan rencana awal mereka melakukan survei secara langsung dengan pengambilan sampling acak kepada wisatawan dari Eropa yang berkunjung ke USS ini. Melalui proses yang cukup panjang akhirnya mereka berhasil mewawancarai 3 nara sumber Mr. Fabian (Germany), Mr. Wayne (London tetapi tinggal di Singapura) dan Mr. Gerald (Swiss). Crew menanyakan bagaimana pendapat mereka tentang krisis finansial yang sedang melanda Eropa sejak 2010 lalu, apakah hal itu berdampak pada aktifitas bisnis atau pekerjaan mereka.

Mr Fabian - Germany
Suatu kesempatan yang sangat langka crew Astronacci bertemu dengan Fabian diantara puluhan ribu orang saat itu. Fabian adalah seorang investment fund manager yang berasal dari German dimana ia juga beraktifitas di pasar modal di German. Dia sedang berlibur selama 5 hari di Singapura dan khusus datang untuk mengunjungi USS. Menurutnya, krisis yang diberitakanMr Fabian & Friend, Photographer: Gabrielle/Astronacci tidak separah apa yang ada di media. Memang terjadi krisis ekonomi yang cukup besar tetapi tidak berdampak merata keseluruh Eropa dan hingga lapis bawah. "Krisis memang terjadi dan tidak dapat dipungkiri bahwa kali ini cukup parah, tetapi terjadi pada beberapa negara di Eropa saja dan belum meluas dan menakutkan seperti yang diberitakan akhir-akhir ini", ungkap Fabian. Menurutnya, sektor riil di German masih berjalan dengan normal dan tingkat consumer spending disana juga masih bagus. Ketika crew menanyakan pendapatnya tentang ekonomi Asia Fabian cukup optimis dan memberi komentar, "Eropa memang Krisis, tetapi saya tidak melihat hal ini terjadi di Asia khususnya Asia tenggara". Sebagai penutup karena dia tidak sabar untuk menuju ke wahana Madagascar, ia mengatakan bahwa suatu hari ingin mencoba mengunjungi Indonesia khususnya Bali dan Jakarta. Dia melihat bahwa Indonesia cukup bagus baik ekonominya maupun prospek di bursa sahamnya.

Mr. Wayne - London/Singapore
Wayne berasal dari Inggris namun menetap di Singapore. Ia datang ke USS bersama istri dan ke dua putrinya. Dengan terburu-buru mengejar teater Monster Rock, ia masih menyempatkan waktu bertemu dengan crew dan menjawab beberapa pertanyaan. Namun, poin utama yang dia katakan adalah, "Eropa memang sedang krisis dan cukup parah, namun anda tidak akan menemukan krisis seperti itu di Asia khussunya Singapura", ucapnya dengan tegas. Dengan opimis dia juga mengatakan bahwa Asia sedang dalam kondisi yang sangat kuat dan sangUSS visitors, Photographer: Gabrielle/Astronacciat berbeda dengan negara barat paling tidak untuk 1 dekade kedepan.

Mr. Gerald - Swiss
Gerald adalah warga negara Swiss yang khusus datang untuk pertama kalinya ke Singapura khusus untuk berkunjung ke USS dan pulau Sentosa. Ia datang bersama kekasihnya. Gerald bekerja di bidang farmasi dan memiliki pandangan yang sedikit berbeda tentang dampak dari krisis Eropa. Crew Astronacci melakukan wawancara sambil berlari karena sang nara sumber sedang mengejar wahana The Mummy. Menurutnya, krisis memang terjadi dan berdampakNew York Area, Photographer: Gabrielle/Astronacci pada sektor farmasi yang sedang ia tekuni walaupun untuk Swiss krisis ini tidak begitu berdampak. Penjualan keluar negeri menurun tajam sejak awal 2011. Baginya, disektor usaha yang sedang dia geluti, dampak krisis ekonomi cukup parah. Namun ia pun sama mengatakan, "Sepertinya belum terlihat effect dari krisis ekonomi di Eropa untuk Asia, mungkin nanti tapi sekarang belum terlihat".

CASINO ROYALE

Hari menjelang malam dan crew mengambil gambar di area New York (Gambar disamping kiri) dCasino Royale RWS, Photographer: Gabrielle/Astronaccian akhirnya melanjutkan perjalanan ke Casino Royale (Gambar disamping kanan). Perlu anda ketahui bahwa Casnio Royale di Resort World Sentosa ini merupakan 3 kasino terbesar di dunia dan merupakan yang paling menguntungkan dari seluruh bisnis kasino yang ada di muka bumi ini dengan mencatatkan EBITDA sebanyak USD1 Miliar. Hal ini didukung oleh pengenaan pajak yang rendah mulai dari 12-22% dari Gross Gaming Revenue (GGR) atau pendapatan kotor kasino. Casino Royale telah memberikan kontribusi sebesar 90-95% untuk EBITDA (Earning Before Interest Tax Depreciation and Amortization) Genting Singapore. Saat ini Casino Royale memiliki 589 meja dan 1,800 mesin slot (termasuk game elektronik) dan berdiri diatas lahan seluas 15,000 m2 dengan rata-rata kemenangan tiap meja kurang lebih sebesar US$15,920 setiap harinya (Tertinggi ke 3 setelah Wynn Macau dan Grand Lisboa). Kompetitor utama untuk RWS Casino Royale adalah Marina Bay Sands Casino yang menempati posisi ke 2 dari EBITDA Gross Margin atau peringkat ke 4 jika dilihat dari EBITDA saja. Gambar disamping kanan anda adalah pintu masuk Casino Royalle yang fotonya di ambil oleh Gabrielle, yang mungkin sudah anda kenal melalui live chat Astronacci. (Thanks Gabrielle!)

Dibawah ini saya memberikan gambaran tentang perbandingan antara RWS dan MBS Casino yang menarik untuk dilihat.
Source: RWS Company
Berdasarkan realita yang ada saya kagum melihat kesuksesan besar yang diraih oleh Genting group ini. Untuk Full Year 2011, tim analis Astronacci memprediksikan keuntungan yang dapat dibukukan oleh Genting Singapore sebesar SGD1,1 Miliar yang di motori oleh pendapatan dari bisnis Resort World Sentosa.

Jam menunjukkan pukul 2 pagi dan crew segera kembali ke hotel untuk beristirahat. Trip report hari ke 2 adalah Marina Bay Sands Hotel and Sky Park.







DAY 2 - MARINA BAY SANDS HOTEL & SKY PARK  (Senin, 3 Oktober 2011)

Mungkin anda salah satu penggemar Sky Park dan kolam renang di Marina Bay Sands Hotel. Sebelum anda menginap di hotel ini ada baiknya mengetahui terlebih dahulu profil dari perusahaan raksasa yang mengembangkan hotel super mewah ini.

Marina Bay Sands memiliki konsep bisnis yang terintegrasi antara hotel, mal, dan kasino. Dibangun dengan 3 tower sebagai penyangga sky park yang berbentuk kapal dan menghadap ke Teluk Marina di Singapura. Dikembangkan oleh Las Vegas Sands, sebuah perusahaan terbuka yang sahamnya di perdagangkan di bursa New York dengan kode LVS, dan merupakan investasi termahal di dunia dengan biaya sekitar Rp.56 triliun termasuk nilai lahannya.

Hotel ini memiliki 2.561 kamar, ruang pameran dan pertemuan seluas 120.000m², juga dilengkapi mal mewah The Shoppes dan ArtScience Museum, Sands Theatre dan Grand Theatre, dua pavilyun mengambang dimana anda bisa mengendari kano seperti di Venice dengan biaya SGD10/ orang. Disamping itu tidak kalah dengan RWS, Marina Bay Sands dilengkapi dengan kasino dengan lebih dari 600 meja dan 1.500 mesin Slot (Jakpot). Yang sangat istimewa adalah Sands SkyPark sepanjang 340 meter dengan kapasitas 3.900 orang dan kolam renang dilantai 56 dan tak bersudut (infinity edge) sepanjang 150 meter, yang merupakan ruang menggantung terbesar di dunia dengan kantilever sejauh 67 meter di Tower 3. Biaya menginap semalam untuk kamar superior adalah sekitar USD339-450, saat itu crew Astronacci mendapatkan harga USD400 per malam.

MBS Sky Park, Photographer: Gabrielle/Astronacci

Gambar diatas cukup menyegarkan mata anda bukan? Ya inilah kolam renang yang menjadi daya tarik luar biasa bagi wisatawan mancanegara. Untuk dapat memasuki area kolam renang ini anda harus menginap di hotel ini, sedangkan untuk pengunjung yang tidak menginap anda tetap dapat melihat kolam renang ini dari luar pagar. Kolam renang ini terletak di atas sky park yang dapat di kunjungi dengan membeli tiket Sky Park MBS, Photographer: Gabrielle/Astronacciseharga SGD20 per orang. Yang ingin saya soroti kali ini adalah saat melakukan survei di sky park ini adalah okupansi hotel MBS mencapai 90% pada hari biasa dan 99% pada high season dan terjual dengan harga yang sangat tinggi hingga USD800 per malam untuk kamar deluxe dan superior dan lebih dari USD1,200 untuk kamar suite room nya.

Tahukah anda bahwa tamu hotel yang dapat kita lihat di kolam renang ini 60% adalah warga negara Amerika dan beberapa negara di Eropa? Siang hingga sore itu sedikitnya ada 200 orang tamu hotel yang berenang dan sebagian besar dari barat dan 40% dari Asia seperti Jepang, Indonesia dan China. Dari 3 wawancara dari nara sumber yang tidak ingin disebut namanya, mereka menyatakan bahwa saat ini Asia adalah surga bagi mereka untuk berlibur dan berbisnis. Krisis ekonomi yang cukup berat memang terjadi di Eropa dan Amerika (Sedikit lebih ringan dari 2008), tetapi di Asia mereka merasa mendapat kesempatan berbisnis yang lebih besar. Menurut mereka, Asia khususnya Singapura, Indonesia, dan China memang sedang bersinar dan nampaknya cukup dapat menahan badai krisis finansial. Ketiga nara sumber kami beraktifitas pada sektor perbankan dan industri.

Beberapa foto untuk anda nikmati (Klik gambar untuk memperbesar)
MBS Hotel Lobby, Photographer: Gabrielle/Astronacci Kudeta Club MBS, Photographer: Gabrielle/Astronacci MBS Hotel Lobby, Photographer: Gabrielle/Astronacci

ImageBoeing 737-900ER Lion Air PK-LFF, Photographer: Gabrielle/Astronacci
Akhirnya, pesawat Lion Air Boeing 737-900ER PK-LFF telah siap di gate D47 Terminal 1 Changi International Airport untuk menerbangkan crew Astronacci kembali ke Jakarta dengan membawa souvenir trip report untuk seluruh pengunjung dan pemerhati setia website ini. Tepat pukul 22:00 waktu Singapura pesawat lepas landas dan mendarat di Soekarno Hatta International Airport di Jakarta pukul 22:40 waktu Jakarta.

Kesimpulan: Dari opini nara sumber dan melihat sendiri apa yang terjadi di dunia hiburan terbesar di Asia tenggara ini maka kita dapat menjawab pertanyaan apakah Asia juga terkena dampak krisis ekonomi Eropa? Tidak ada yang tahu sebuah kepastian dimasa depan namun kita dapat melihat bahwa tingkat consumer spending masih cukup besar di kawasan Asia. Sebesar apapun krisis di Eropa dan Amerika namun bisnis tetap berjalan di kawasan Asia tenggara dan makin membaik sejak krisis 1998 dan 2008 yang lalu. Baik Singapore maupun Indonesia kita dapat melihat sektor wisata yang selalu penuh dengan pengunjung dan juga sektor retil yang tiada hentinya dibanjiri pembeli. Terutama Indonesia, dengan GDP Growth yang sangat tinggi dan telah menjadi negara dengan consumer confidence tertinggi kedua di dunia, saya yakin bahwa sekeras apapun badai finansial melanda market kita (IHSG), proses pemulihannya akan cepat. Yang artinya, semakin dalam krisis menekan IHSG (Andai kata terpeleset hingga 2,500 atau 2,800) maka akan semakin panjang waktu bullishnya. Sebagai penutup, saya ingin menghimbau agar investor tetap tenang dan berpikir positif melihat makro ekonomi yang ada di negara kita, dan menyadari bahwa kenaikan IHSG sejak 2009 lalu di motori oleh kekuatan dari tingkat pertumbuhan ekonomi khususnya pada consumer spending yang tinggi. Sehingga, hal ini akan berlangsung lebih long life dan cenderung stabil. Semoga trip report ini dapat menjadi artikel yang berharga bagi anda semua. 

Tuhan memberkati.

1 Comment

  • Comment Link Harry Rahardjo Selasa, 11 Oktober 2011 06:59 posted by Harry Rahardjo

    Very nice & Valuable info...

Leave a comment