Seperti kita ketahui bersama bahwa IHSG dalam kondisi yang cukup rawan bagi kebanyakan investor di Indonesia dengan kejatuhan secara ekstrim sejak awal Agustus 2011 lalu. Pada kesempatan kali ini saya ingin memberi penyegaran melalui beberapa hal agar anda tidak putus asa dalam aktifitas trading sekarang ini. Tidak dapat dipungkiri mungkin anda terlewatkan peringatan-peringatan untuk keluar dari market pada tanggal 2 Agustus dan 12 Agustus 2011 yang saya sampaikan melalui riset UOBKayHian beberapa waktu lalu, maka kali ini saya akan memberikan solusi menghadapi kondisi pasar yang jatuh dalam.Sebelum berlanjut perlu saya sampaikan bahwa kondisi crash yang dikuatirkan banyak orang sebenarnya terjadi bukan di Indonesia melainkan krisis di negara maju seperti Amerika dan Eropa. Indonesia sendiri masih dalam kondisi yang baik ditandai dengan hal paling jelas dan dapat kita lihat bersama yaitu baru-baru ini Bank Indonesia melakukan intervensi Rupiah saat melemah ke Rp9,200/USD sehingga menjadi ke level normal di Rp8,700. Intervensi ini dilakukan dengan membeli SUN dan operasi pasar kurang lebih sebesar 2,5 Triliun Rupiah dari anggaran 5 Triliun. Berbeda dengan 2008 dimana permasalahan yang terjadi adalah krisis likuiditas yang menyebabkan pemerintah tidak mampu menjaga rupiah yang terus melemah hingga Rp12,000 per Dollar Amerika.
Dari 2 hal diatas kita tentunya dapat melihat bahwa substansi permasalahannya bukanlah pada krisis likuiditas seperti yang terjadi pada 2008 silam, walaupun efek kejatuhan IHSG hampir mirip. Disamping itu, anda dapat melihat angka inflasi di 2008 yang mencapai double digit (Diatas 10) sedangkan sekarang kita berada dibawah 5. Tidak lupa angka pertumbuhan ekonomi yang pada 2008 terus menurun dari 6.5% ke level 4% sedangkan sekarang GDP percapita Indonesia sedang naik hingga ke 6.5%.
Kondisi prima merupakan tolak ukur awal bahwa kita sedang berada di dalam kondisi "crash" yang disebabkan oleh latar belakang alasan yang berbeda. Lalu, anda mungkin bertanya apa yang menyebabkan asing melakukan nett sell begitu besar? Kita melihat keputusan the Fed pada 20 September 2011 yang lalu dimana mereka akhirnya memutuskan untuk melakukan operation twist yang dianggap dapat menjadi solusi untuk membantu menanggulangi ancaman resesi di Amerika Serikat. Apakah operation twist tersebut? Anda dapat melihat penjelasannya di sini.
Secara umum efek dari operation twist sebesar USD400 Miliar yang digunakan untuk membeli long term bond ini membuat para big fund memindahkan dananya dari capital market ke pada fixed income dalam hal ini long-term bond. Sehingga yang dapat kita lihat, terjadi profit taking di seluruh Asia yang dilakukan dalam rangka "switching" ke pasar bond. Berbeda dengan 2008, aksi jual besar-besaran dilakukan karena "butuh uang" dimana redemption pada reksa dana (mutual fund), deposito, saham, dan juga obligasi semua dilakukan karena krisis likuiditas global yang sangat parah.
Nah, sekarang kita sudah mengerti bahwa aksi jual besar-besaran dari asing memiliki alasan yang berbeda antara 2008 dan 2011. Dengan mengetahui hal ini, maka kita akan lebih tenang menyikapi aksi jual besar-besaran yang dilakukan investor asing. Kondisi harga saham-saham bluechip saat ini sudah cukup murah dan sebagian sudah sangat murah jika dihitung dari performa kinerja perusahaan pada semester 2 2011 ini. Sehingga, saya yakin tidak lama akan terjadi net buy besar-besaran oleh investor asing untuk membeli saham-saham yang sudah under value ini.

